10 Feb 2010

Pemanfaatan kali Ciliwung sebagai pembangkit Listrik Alternative



  
Ci Liwung[1] atau, secara salah kaprah namun lebih populer, Sungai Ciliwung, adalah sebuah sungaidi Pulau Jawa. Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan.
Panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km dengan daerah pengaruhnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi.[2] Wilayah yang dilintasi Ci Liwung adalah Kota BogorKabupaten BogorKota Depok, dan Jakarta.
Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung GedeGunung Pangrango dan daerah Puncak.
Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Di daerah Manggarai aliran Ci Liwung banyak dimanipulasi untuk mengendalikan banjir. Jalur aslinya mengalir melalui daerah Cikini, Gondangdia, hingga Gambir, namun setelah Pintu Air Istiqlal jalur lama tidak ditemukan lagi karena dibuat kanal-kanal, seperti di sisi barat Jalan Gunung Sahari dan Kanal Molenvliet di antara Jalan Gajah Mada dan Jalan Veteran.[3] Di Manggarai, dibuat Banjir Kanal Baratyang mengarah ke barat, lalu membelok ke utara melewati Tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima, hingga ke Pluit.

Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, DAS di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar.
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (Bogor), Depok, Manggarai, serta Pintu Air Istiqlal. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di Gadog, Megamendung, Bogor sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.(wikipedia.org)
Apabila diteliti dan dicari pemanfaatan sungai ini maka akan bisa mendapatkan hasil yang lumayan,antara lain bisa digunakan sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan DKI yang sepertinya masih sangat jauh dari harapan untuk terbebas,sebagai pembangkit listrik alternatif dimana sekarang pembangkit listrik merupakan barang yang sangat mahal.Ketika kondisi sungai Ciliwung normal,maka itu bisa dijadikan sebagai pembangkit listrik biasa dan pada saat musim penghujan maka air dari sungai Ciliwung bisa dijadikan sebagai cadangan energi listrik yang sangat luar biasa besar.
Bila memang selama ini pemerintah  masih mencari  energi listrik baru,boleh dicoba untuk menggali pemanfaatan kali Ciliwung sebagai energi terbaru.Jika pemerintah terbentur oleh masalah keuangan yang merupakan pokok masalah,bisa menyerahkan pengelolaan Sungai Ciliwung untuk membangkitkan energi listrik baru kepada pihak swasta bisa dari dalam negeri ataupun  luar negeri tetapi tetap dalam pengawasan negara selaku pemilik utama kedaulatan.

0 komentar: